Langsung ke konten utama

Pendidikan Politikkah?

Rupa-rupanya gegap-gempita politik yang di share melalu panggung-panggung media, mendorong setiap kalangan untuk berucap dan bercuap-cuap tentang segala isu yang mengiringinya. Para politisi, eksekutif, praktisi, pegawai pemerintah, pegawai swasta, petani, nelayan, maupaun para pekerja lainnya bahkan anak-anak PAUD-pun juga turut andil bersuara tentang trend politik terkini.

Cuap-cuap itupun kemudian bahkan meningkat menjadi diskusi hangat, saling mempengaruhi satu-sama
lain menggunakan melalui adu akal bahkan okol, hanya gara-gara politik. Tidak sedikit para tukang becak yang semula berbincang ringan disertai senda gurau serba nyaman, namun tiba-tiba berselisih paham dan berseteru, hanya gara-gara berebut pengaruh pilihan politik. Tak jarang juga anak-anak kecil yang bermain kelereng, dakon, karet gelang, play station, dengan ciri khas kekanakannya asyik bermain, namun juga tiba-tiba bertengkar, hanya gara-gara berselisih pilihan pilitik, yang mungkin sudah menguat berkat sentuhan bertubi-tubi oleh informasi media ataupun oleh rutinitas diskusi para orang tuanya, tetangganya, atau celotehan masyarakat lainnya yang lalu-lalang di sekitar tempat bermain mereka.

Ya. Politik sudah menjadi konsumsi semua lapisan masyarakat dari semua kalangan.

Pertanyaannya apakah yang demikian ini merupakan salah indikator dari keberhasilan pendidikan politk?

Monggo, kita diskusikan lebih lanjut.

Bondowoso, Mei 2014
Al Faqir

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelah atau Pahala Berlimpah (Sekolahku Gagal Bag. 6)

Tidak ada profesi yang lebih mulia dari pada profesi pendidik. Kemulian tersebut tidak datang secara otomatis, melainkan harus diperjuangkan. Tujuan perjuangan tersebut hanya satu, yakni memuliakan manusia yang memang sudah mulia sejak penciptannya. Pendidik adalah kholifah , yang berkewajiban untuk mensyiarkan kebenaran dengan kesanggupan untuk menjadi teladan atas kebenaran itu

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 TAK KAN BERHASIL

Lima dari delapan rumusan tujuan Pendidikan Nasional, yang dinyatakan secara eksplisit dalam Undang-undang No. 20 Th. 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional menekankan pada aspek karakter (akhlaq) daripada pengetahuan dan keterampilan. Setelah dilakukan telaah terhadap eksperimen kurikulum yang sudah dilaksanakan, disimpulkan bahwa KBK dan KTSP-pun dianggap gagal untuk memfasilitasi raihan tujuan tersebut. Dan penetapan implementasi Kurikulum 2013 (selanjutnya K-13) yang mengarah pada penguatan substansi nilai karakter, merupakan keputusan final yang diyakini mampu memfasilitasi idealitas perundangan tersebut. Atas keyakinan tersebut, Pemerintah dengan serta merta (sebagian orang menganggap memaksakan) menyusun kebijakan teknis implementatif, mulai dari desain konten sampai desain distribusi kompetensi konten melalui workshop, bimtek, seminar, lokakarya, Diklat dan sejenisnya. Semuanya dilakukan atas dasar keyakinan bahwa K-13 merupakan jalan keluar paling utama atas masalah ...